Aku melihatnya dihadapanku, asik dengan gadgetnya, begitu pula aku yang sibuk dengan gadgetku, kita hanya melirik sesekali satu sama lain, kadang melempar candaan singkat namun kembali lagi pada gadget masing-masing.
Dulu, aku selalu berharap jika kita sedang berdua fokuslah hanya pada obrolan kita. Fokuslah padaku begitupun aku yang akan selalu menyimak apapun yang sedang kamu bicarakan. Tapi, itu dulu.
Seiring dengan bertambanya usia, dewasanya hubungan ini dan banyaknya waktu yang kita miliki berdua. Kini, aku berharap kita mempunyai space untuk menikmati kehidupan lain selain kita tanpa merubah makna hubungan ini.
Pagi ini, kulihat raut wajahku di cermin kamar. Kupandangi satu persatu guratan-guratan di wajahku yang dulu tak pernah kusadari. Mata yang dulu bulat berbinar, segar di pagi hari, kini nampak layu diiringi dengan lingkaran hitam dibawahnya. Kulit yang dulu kencang, putih, bersih, bersinar, kini nampak kendor dan kusam.
Kucoba untuk tersenyum, berharap semuanya samar. Namun, hal tersebut tidak mengubah apapun, bahkan guratan halus yang dulu tak ada kini mulai nampak. Di kening, mata, dan garis senyum.
Akhirnya aku bergerak menjauh dari cermin. Memandangi wajah dicermin lagi. Aku tersenyum lagi. Lebih nyaman jika dilihat dari jauh seperti ini.
Sebagian orang menyadari kebaikan orangtua mereka, setelah mereka tak lagi serumah dan merasakan menjadi mandiri
Sebagian orang menyadari kebaikan orangtua mereka, setelah mereka menikah dan menjalankan rumah tangga
Sebagian orang menyadari kebaikan orangtua mereka, setelah mereka memiliki anak dan menjadi orangtua
Sebagian orang menyadari kebaikan orangtua mereka, setelah orangtua mereka tiada, lalu mereka menyesal karena belum sempat membalasnya
:”(
jalan terus
kebanyakan orang menyesal dengan berujar, “seandainya saja saya waktu itu…” kata-kata ini sekiranya sering sekali muncul dari hati dan pikiran kita–saat menurut kita, kita gagal.
padahal, pengalaman itu yang paling mahal. Edison senang setiap bohlamnya tak berhasil menyala sebab dia semakin tau apa saja yang tidak bisa bekerja. Jack Ma begitu mengistimewakan kegagalan sehingga cita-citanya adalah berbagi kisah gagal, bukan kisah sukses. lagi, idiom gagal dengan cepat sudah sangat sering kita dengar.
ada kalanya kita bertemu dengan jalan buntu, tetapi bukan berarti jalannya tidak ada. tidak ada jalan (jalannya belum ditemukan) berbeda dengan jalannya tidak ada (jalannya memang tidak ada). jalan memang nggak selalu lurus, tetapi kita selalu bisa jalan terus: jalan terus karena tujuannya sudah kita miliki, kita yakini.
pada akhirnya, cara menyesal terbaik bukanlah ujaran “seandainya saja”, melainkan terus melangkah sambil terus memperbaiki diri. pada akhirnya, kejujuran dan ketekunan adalah kemenangan.
“jalan memang nggak selalu lurus, tetapi kita selalu bisa jalan terus: jalan terus karena tujuannya sudah kita miliki, kita yakini. “
Bersyukur masih bisa menikmati hari ini, belajar dari pengalaman masa lalu, terus berikhtiar dan memohon untuk kedepannya semoga harapan segera bertemu dengan realita :)
Apa sebab orang bisa menyukaimu, bahkan jatuh hati? Padahal engkau tidak cantik seperti yang lain, bukankah itu perasaanmu? Kamu merasa tidak juga lebih pintar, lebih baik, bahkan lebih salehah. Tapi mengapa ada yang bisa menyukaimu? Bahkan rela jauh-jauh datang ke rumahmu, rela bekerja lebih keras untuk mempersiapkan hari-hari baik kemudian hari denganmu.
Apa sebab orang bisa menyukaimu? Sekalipun menurutmu, dirimu begini dan begitu?
Apa hendak dikata. Bukankah berulang kali kamu dengar bahwa cantik itu relatif, berdasarkan perasaan. Bukan berdasarkan standar iklan di televisi. Bahkan, sejauh mana ukuran kebaikan seseorang itu juga relatif. Baginya, kamu itu baik, dan itu lebih dari cukup untuk mengalahkan pikiranmu tentang dirimu sendiri yang merasa kamu belum cukup baik.
Apa sebab orang bisa menyukaimu, bahkan jatuh hati? Barangkali itulah sisi yang tidak bisa kamu lihat. Ada orang yang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kamu lihat dari dirimu sendiri. Dan memang, kita tidak bisa menilai diri sendiri dengan baik.
Boleh jadi, masa lalumu amat buruk, tapi baginya itu tidak berarti. Boleh jadi, kulit wajahmu kusam dan gelap, tapi baginya itu tidak berarti. Boleh jadi kepandaianmu tidak seberapa, tapi baginya itu tidak berarti.
Lalu kira-kira apa yang berarti darimu baginya? Barangkali kamu akan menemukan jawaban itu nanti di tatapan matanya, juga bagaimana setiap kata-kata yang keluar darinya, juga bagaimana ia memperlakukanmu. Barangkali juga kamu tidak akan menemukan jawaban itu segera. Butuh bertahun-tahun untuk mengerti dan memahami, mengapa ada orang yang bisa menyukaimu, bahkan jatuh hati.
Yogyakarta, 5 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi
Barangkali tidak ada alasan untuk menyukai orang lain.
cerita
konon, manusia diperintahkan untuk menyampaikan nikmat yang didapat, menyebutkannya, sebagai bentuk rasa syukur. lalu begitulah kita semua, berbagi tentang kebahagiaan-kebahagiaan kita: keindahan tempat yang kita kunjungi, kesenangan kita bersama seseorang, dan seterusnya.
sadar nggak sadar, kadang bercerita kita membuat orang lain sedih. seorang sahabat saya misalnya, bilang dirinya sedih karena ASI-nya tidak sebanyak saya. sejak saat itu, saya berhenti total dari berbagi cerita memompa dan menyusui. yang saya pahami, kegalauan seorang istri/ibu dan peranannya itu jauh berbeda levelnya dengan kegalauan seorang remaja dan asmaranya.
kesimpulan: seringkali yang salah dari bercerita kita bukanlah berceritanya, melainkan kepada siapanya. saat kita khawatir bahwa cerita kita bisa membuat orang lain sedih, iri, cemburu, dan hal-hal kurang baik lainnya, saat itulah ujian datang kepada kita untuk menahan diri.
anehnya juga, kadang kita justru malas bercerita kepada orang-orang yang menanti cerita dari kita. atau, bercerita tetapi isinya keluhan semua. ayah dan ibu kita misalnya, mereka akan jauh lebih bahagia jika mendengar bahwa kita menikmati kuliah yang sedang kita jalani–alih-alih keluhan tentang banyaknya tugas. pasangan kita misalnya, dia akan ikut bangga jika mendengar bahwa kita mencintai pekerjaan kita–alih-alih betapa lelahnya kita. anak-anak kita misalnya, kakak-adik kita misalnya, saudara, tetangga dekat.
bukankah mereka yang paling mendoakan kita? bukankah mereka yang merindukan kita? menyayangi kita? orang-orang terdekatmu adalah orang-orang yang paling berhak atas cerita bahagiamu, sebab mereka jugalah yang paling banyak berkorban dan berjuang untukmu.
jika tidak ada cerita baik yang bisa dibagi, belajarlah menahan diri dari bercerita yang tidak baik–sebab itu tanda tidak bersyukur. jika ada cerita baik yang bisa dibagi, belajarlah untuk memilah dan memilih pendengar cerita–sebab bersyukur jangan sampai membuat orang lain tidak bersyukur.
Ya kebanyakan orang yang paling dekat adalah orang yang paling sering mendengarkan keluhan keluhan. Padahal seharusnya orang yang dekat adalah orang yang paling berhak mendengarkan cerita bahagia. Hmm
Noted.
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017
Sudah Oktober, kekhawatiran perempuan itu tumbuh semakin subur dikalangan perempuan. Seperti melihat bagaimana perempuan itu saling membandingkan satu sama lain, dalam berkeluarga, dalam kehamilan, dalam proses kelahiran, dalam mengasuh anak, dsb.
Saat sudah menikah, pahamilah segala sesuatunya dengan ilmu. Jangan mudah khawatir dengan “kata orang”. Perempuan harus bisa belajar abai terhadap kata dari orang lain, sebab setiap perempuan, setiap proses menuju pernikahan, setiap memulai berkeluarga, setiap kehamilan, setiap kelahiran, setiap mendidik anak, masing-masing diberikan anugerahnya. Di berikan tantangannya sendiri-sendiri :)
Periode 2009 - 2017
Tahun 2009 adalah tahun ketika saya pertama kali memasuki dunia perkuliahan di kampus ITB. Delapan tahun yang lalu, rasanya seperti kemarin sore. Selama delapan tahun terakhir ini pula, terjadi banyak perubahan, baik di diri saya maupun orang lain, seperti teman-teman, saudara, keluarga, dsb.
Ada banyak sekali perubahan yang terjadi, mulai dari cara berpakaian, cara berpikir, pilihan-pilihan hidup, orientasi beragama, dsb. Tulisan ini bukan untuk mencari tentang benar atau salahnya perubahan seseorang, melainkan untuk menyelami proses yang terjadi. Kira-kira apa yang membuat seseorang kemudian berubah, secara signifikan.
Delapan tahun adalah waktu yang bisa dikatakan cukup panjang, apalagi delapan tahun ini melewati salah satu fase Quarter Life Crisis. Dalam delapan tahun terakhir ini, kita mengenal diri sendiri, tapi menilai diri sendiri sangatlah tidak objektif. Mari saya ajak untuk melihat apa yang saya lihat dalam delapan tahun terakhir ini. Perubahan itu ada yang baik ada yang buruk, tapi kita tidak akan berbicara tentang ini baik atau itu buruk.
Seperti ada teman-teman saya dulu yang berjilbab, sekarang sudah tidak lagi memakainya. Juga ada yang sebaliknya, dulu tidak memakainya, sekarang telah berjilbab terlepas dari panjang/pendeknya jilbab yang ia kenakan, tapi mereka berubah. Ada juga kakak mentoring yang dulu berjilbab lebar dan rajin mengajak anak-anak mentornya untuk melakukan hal yang sama, kini menjadi amat pendek karena alasan kariernya di ibukota. Ada juga yang dulu seorang agamis, kini ia justru rajin mempertanyakan agamanya sendiri di halaman media sosialnya. Ada juga yang sebaliknya, saat dulu sama sekali tidak begitu dekat dengan agama, sekarang dia lebih paham banyak hal, bahkan dibandingkan yang lain.
Ada juga yang dulu teman laki-laki perilakunya sangat tidak karuan, kini ia bertransformasi menjadi laki-laki yang bertanggungjawab, amat bertanggungjawab. Bahkan secara tidak terduga, dia menikah lebih dulu dibandingkan siapapun di kelasnya. Ada juga teman yang dulu ketika dikampus, ia sama sekali bukan siapa-siapa. Jarang yang mengenalnya. Kini, ia terlihat paling bersinar dengan start-up bisnis yang ia tekuni, pada bidang yang sama sekali tidak berhubungan dengan jurusan kuliahnya. Ada yang dulu amat aktif dalam beroganisasi, kini tenggelam seperti hilang di tengah lautan selepas kuliah.
Ada banyak sekali perubahan dalam diri orang lain yang saya kenal, satu persatu saya berusaha menyelami, kira-kira apa yang membuat mereka berubah?
Lingkungankah? Teman-teman sepermainanyakah? Hal-hal yang ia pelajarikah? Karena orang tuanya kah? Atau ia mengalami kejadian besar dalam hidupnya selama delapan tahun terakhir ini? Atau ada hal lainnya yang saya tidak tahu. Yang jelas, perubahan itu nyata terjadi.
Diri sendiri pun bertransformasi, ada hal yang berubah dari diri kita. Hanya saja, untuk melihatnya dengan lebih objektif, kita perlu bertanya kepada orang lain.
Yogyakarta, 17 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi
Mendekat atau menjauh itu hanya masalah waktu.
Pada akhirnya semuanya akan kekal, sendiri.